Burn Rate

Burn Rate adalah kecepatan perusahaan menghabiskan cadangan kasnya, umumnya diukur per bulan. Dibedakan antara Gross Burn Rate (total pengeluaran operasional bulanan sebelum pendapatan) dan Net Burn Rate (Gross Burn Rate dikurangi pendapatan yang masuk — angka inilah yang relevan untuk menghitung Runway). Burn Rate yang tinggi tanpa pertumbuhan pendapatan yang proporsional menjadi sinyal bahaya yang akan mengkhawatirkan investor.

Komponen utama Burn Rate startup pada tahap awal: biaya gaji dan kompensasi tim (umumnya 60–80% dari total Gross Burn), biaya infrastruktur teknologi (server, software), biaya pemasaran dan akuisisi pengguna, serta biaya operasional umum. Keputusan untuk menambah anggota tim senior — yang masing-masing dapat menambah Rp20–50 juta per bulan ke Burn Rate — harus dianalisis dengan cermat terhadap dampaknya pada Runway dan milestone yang dapat dicapai.

Investor melakukan analisis mendalam terhadap Burn Rate dan efisiensi modal dalam proses due diligence: metrik seperti CAC (Customer Acquisition Cost) terhadap LTV (Lifetime Value), dan Capital Efficiency Ratio (pendapatan ARR yang dihasilkan per rupiah yang dibakar) digunakan untuk menilai apakah manajemen memiliki disiplin dalam mengalokasikan modal secara produktif. Startup yang tidak dapat menjelaskan unit economics mereka secara meyakinkan akan menghadapi kesulitan mendapatkan pendanaan dari investor institusional yang berpengalaman.